Senin, 12 November 2012

be a Success



Kunci Sukses: Pikir plus Dzikir


Sahabatku yang dirahmati Allah swt, kesuksesan adalah impian semua orang. Tak ada satu pun manusia yang hidup di muka bumi ini yang tidak ingin sukses. Mungkin kita sering mendengar sepatah kata motivasi dari sahabat ketika kita akan ujian, “Sukses ujiannya ya,,”. Tidak hanya itu, misalnya ketika kita akan berangkat ke kampus ini kemudian berpamitan kepada ayah dan ibu kita, mungkin juga kita akan mendengar mereka berpesan, “Hati-hati ya nak, semoga kamu jadi orang yang sukses.” Dari kedua ilustrasi tersebut tampak bahwa sesungguhnya bukan hanya diri kita yang menginginkan ‘sukses’, namun orang tua kita, sahabat kita, dan kerabat-kerabat kita juga mengharapkan kita menjadi orang yang sukses. Mengapa? Mayoritas orang berpendapat bahwa kesuksesan dapat menjemput kebahagiaan. Orang yang sukses akan hidup bahagia. Lalu ada apa sebenarnya dengan ‘sukses’?
Definisi sukses sesungguhnya masih sangat abstrak. Setiap orang memiliki tolak ukur yang berbeda dalam mengukur kadar kesuksesannya. Ada yang beranggapan bahwa orang yang memiliki harta banyak, kaya raya, maka ia adalah orang sukses. Artinya, harta menjadi tolak ukur sukses atau tidaknya seseorang. Ada lagi yang berpendapat bahwa orang yang  jenjang pendidikannya tinggi dan memiliki banyak ilmu. Artinya, tolak ukur kesuksesan ada pada ilmu. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa orang yang sukses adalah mereka yang memiliki jabatan tinggi dalam struktur sosial masyarakat, baik dalam tatanan masyarakat tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, bahkan negara dan dunia sekalipun. Dalam hal ini jabatan atau kekuasaan menjadi tolak ukur kesuksesan. Pendapat lain mengatakan bahwa yang penting tenang dan tenteram, meskipun ekonominya pas-pasan mereka merasa hidupnya sudah sukses dan bahagia. Artinya, ketenangan dan ketentraman menjadi tolak ukur kesuksesan. Benarkah demikian?
Sampai saat ini, kesuksesan masih dianggap sebagai sesuatu yang relatif karena belum ada tolak ukur mutlak sebuah kesuksesan. Hanya saja, ketika kita menyaksikan ada pejabat tinggi negara yang sangat cerdas, kaya, keluarganya damai, dan baik hati, mungkin kita akan beranggapan ia adalah orang sukses. Namun, ada satu hal yang seringkali terlupakan oleh kita, wahai sahabatku. Bahwa sesungguhnya kesuksesan yang kita raih hendaknya dapat membawa kita pada dua kebahagiaan, yaitu bahagia di dunia dan tentunya di akhirat yang abadi. Sehingga dalam perjalanan menggapai kesuksesan, kita harus selalu berkaca pada dua kebahagiaan tersebut. Porsi usaha yang kita lakukan perlu adanya keseimbangan agar hasil yang kita peroleh adalah membawa manfaat, membuat kita bahagia di dunia juga di akhirat kelak. Bukankah Allah swt telah berfirman dalam Q.S Al Qashash ayat 77, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...”
Meskipun tolak ukur kesuksesan bukan hal yang mutlak, ada dua hal yang perlu kita optimalkan untuk meraihnya. Dua hal tersebut adalah pikir dan dzikir. Pikir merupakan potensi yang harus kita optimalkan karena kita memiliki otak yang telah dianugerahkan oleh Allah swt. Sukses membutuhkan kecerdasan, sehingga untuk meraihnya kita perlu memperbaiki pola pikir kita. Dengan berpikir, mengotimalkan fungsi otak yang kita miliki maka kita akan menjadi semakin cerdas. Semakin diasah maka akan bertambah kecerdasan kita. Kemudian dzikir. Ketika kita telah berhasil menjadi orang yang sangat cerdas, namun kita jauh dari nilai-nilai keimanan, maka kita akan menjadi penyembah ilmu pengetahuan. Sehingga tak jarang kita jumpai banyak orang yang pandai namun ilmunya tidak bermanfaat, bahkan sebaliknya menjadi faktor pemicu timbulnya permasalahan. Oleh karena itu, kita juga hendaknya menjadi orang yang rajin berdzikir, mengingat Allah swt dimana pun dan kapan pun. “...ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar Ra’du:28).
created by: Ana Fauziyatun Nisa







Tidak ada komentar:

Posting Komentar