Jumat, 14 Juni 2013

Suara Hati



Dan  sinar mentari pun
Semakin dekat
Menyambut pagi

oh embun
akankah kau tetap
menyejukkan

kala sang bayu
berhembus lembut
menyapa nyiur

dan awan pun
kian setia
menaungi sang bumi

hingga senja menjelang
aku ‘kan tetap disini
menantimu jua
menjaga cinta suci
dari Sang Maha Cinta

Rabu, 16 Januari 2013

Resah;Alarm Hati



"Tahukah engkau wahai sahabat hati, mengapa keresahan seringkali menghampiri kita? Resah karena banyak tuntutan. Resah karena banyak amanah tak tertunaikan. Resah karena futur tak kunjung pergi. Resah karena merasa sendiri. Resah karena target tak tercapai. Dan masih banyak lagi resah-resah yang lain yang mungkin saja kita tak dapat mendeteksi penyebabnya. Ya, resah itu menandakan perasaan kita yang sedang tidak stabil. Pastinya, ada sesuatu yang kurang dalam diri kita. Mungkin itu sebabnya kita merasakan resah. Tentunya semua orang pun sebenarnya tak ingin rasa ini 'mampir' di hatinya, karena akan membuatnya galau tak tentu arah.
...
Namun, tahukah engkau wahai sahabat hatiku,, sebenarnya ada hikmah dibalik keresahan, meskipun rasa 'resah' itu sangat tidak menyenangkan. Orang yang pandai mengambil hikmah di setiap keadaan tentu faham akan hal ini. Keresahan yang kita rasakan, harus disyukuri sebagai rahmat Allah yang diberikan kepada kita. Mengapa? Itulah tanda bahwa hati kita masih sensitif dengan kebaikan juga kebenaran. Ibarat orang sakit, hati sedang mengalami 'demam' ringan. Artinya harus segera diberikan obat agar cepat sembuh. Bersyukur ketika kita masih merasakan 'resah' karena dengan keresahan itu kita menjadi tahu arti kebenaran yang sesungguhnya. Dalam hal ini 'resah' sedang menjadi 'alarm' bagi hati kita untuk segera mencari obat yang menyejukkan kalbu. Bersegeralah mencari obat itu agar hati tak bertambah parah sakitnya. Cukup dengan rasa 'resah' saja Allah menegur kita dengan kelembutanNya, jangan sampai Allah menegur dengan caraNya yang lain yang mungkin lebih dari sekedar keresahan. Subhanallah,,betapa Maha Lembutnya Allah Tuhan kita :). Sekali lagi, bersyukurlah karena Allah masih sayang dengan kita.
...
Karena itu, segeralah bangkit mencari 'penyejuk hati' ketika keresahan menghampirimu, wahai sahabat hatiku. Resah itu 'alarm' agar engkau semakin dekat denganNya. Segeralah bangkit, jemput oase hikmahNya, melalui firman-firmanNya yang indah, melalui lantunan munajat doa padaNya, melalui penghambaan ikhlas padaNya, jemputlah segera penyejuk hatimu, karena Allah masih menyayangimu..." 
---Yogya1113-afn---

Senin, 12 November 2012

my Poetry ^^

Betapa Allah Menyayangimu                          

Betapa Allah menyayangimu
Sungguh, Dia Maha Tau apa yang kau butuhkan
Tahukah kau, betapa Allah menyayangimu?
Ia hadirkan kesetiaan angin nan lembut
Tuk menemanimu yang sendiri dalam sepi

Betapa Allah sangat menyayangimu
Sungguh, Dia Maha Mengerti apa yang kau inginkan
Ingatkah ketika hampa dan resah menerpamu
Allah kirimkan cahaya hati tuk menerangi,
 dan mendamaikan jiwamu

Betapa Allah amat sangat sayang padamu
Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu
Ketika kau terpuruk dalam putus asa
Tak bosan Ia tuntun engkau,
Ia bangkitkan engkau,
Dan tak lupa Ia berikan energiNya
‘tuk membuatmu tetap bertahan

Betapa Allah menyayangimu
Sungguh, Allah sangat menyayangimu

Masihkah kau mengelak tuk mendekatiNya?
Adakah kau lupa bahwa Allah sangat baik padamu?
Masihkah kau enggan tuk beribadah padaNya?
Adakah kau lupa bahwa Allah yang menjadi penolongmu?

Sungguh, betapa Allah sangat menyayangimu...

Yogya, 16/9/2012
afn

be a Success



Kunci Sukses: Pikir plus Dzikir


Sahabatku yang dirahmati Allah swt, kesuksesan adalah impian semua orang. Tak ada satu pun manusia yang hidup di muka bumi ini yang tidak ingin sukses. Mungkin kita sering mendengar sepatah kata motivasi dari sahabat ketika kita akan ujian, “Sukses ujiannya ya,,”. Tidak hanya itu, misalnya ketika kita akan berangkat ke kampus ini kemudian berpamitan kepada ayah dan ibu kita, mungkin juga kita akan mendengar mereka berpesan, “Hati-hati ya nak, semoga kamu jadi orang yang sukses.” Dari kedua ilustrasi tersebut tampak bahwa sesungguhnya bukan hanya diri kita yang menginginkan ‘sukses’, namun orang tua kita, sahabat kita, dan kerabat-kerabat kita juga mengharapkan kita menjadi orang yang sukses. Mengapa? Mayoritas orang berpendapat bahwa kesuksesan dapat menjemput kebahagiaan. Orang yang sukses akan hidup bahagia. Lalu ada apa sebenarnya dengan ‘sukses’?
Definisi sukses sesungguhnya masih sangat abstrak. Setiap orang memiliki tolak ukur yang berbeda dalam mengukur kadar kesuksesannya. Ada yang beranggapan bahwa orang yang memiliki harta banyak, kaya raya, maka ia adalah orang sukses. Artinya, harta menjadi tolak ukur sukses atau tidaknya seseorang. Ada lagi yang berpendapat bahwa orang yang  jenjang pendidikannya tinggi dan memiliki banyak ilmu. Artinya, tolak ukur kesuksesan ada pada ilmu. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa orang yang sukses adalah mereka yang memiliki jabatan tinggi dalam struktur sosial masyarakat, baik dalam tatanan masyarakat tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, bahkan negara dan dunia sekalipun. Dalam hal ini jabatan atau kekuasaan menjadi tolak ukur kesuksesan. Pendapat lain mengatakan bahwa yang penting tenang dan tenteram, meskipun ekonominya pas-pasan mereka merasa hidupnya sudah sukses dan bahagia. Artinya, ketenangan dan ketentraman menjadi tolak ukur kesuksesan. Benarkah demikian?
Sampai saat ini, kesuksesan masih dianggap sebagai sesuatu yang relatif karena belum ada tolak ukur mutlak sebuah kesuksesan. Hanya saja, ketika kita menyaksikan ada pejabat tinggi negara yang sangat cerdas, kaya, keluarganya damai, dan baik hati, mungkin kita akan beranggapan ia adalah orang sukses. Namun, ada satu hal yang seringkali terlupakan oleh kita, wahai sahabatku. Bahwa sesungguhnya kesuksesan yang kita raih hendaknya dapat membawa kita pada dua kebahagiaan, yaitu bahagia di dunia dan tentunya di akhirat yang abadi. Sehingga dalam perjalanan menggapai kesuksesan, kita harus selalu berkaca pada dua kebahagiaan tersebut. Porsi usaha yang kita lakukan perlu adanya keseimbangan agar hasil yang kita peroleh adalah membawa manfaat, membuat kita bahagia di dunia juga di akhirat kelak. Bukankah Allah swt telah berfirman dalam Q.S Al Qashash ayat 77, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...”
Meskipun tolak ukur kesuksesan bukan hal yang mutlak, ada dua hal yang perlu kita optimalkan untuk meraihnya. Dua hal tersebut adalah pikir dan dzikir. Pikir merupakan potensi yang harus kita optimalkan karena kita memiliki otak yang telah dianugerahkan oleh Allah swt. Sukses membutuhkan kecerdasan, sehingga untuk meraihnya kita perlu memperbaiki pola pikir kita. Dengan berpikir, mengotimalkan fungsi otak yang kita miliki maka kita akan menjadi semakin cerdas. Semakin diasah maka akan bertambah kecerdasan kita. Kemudian dzikir. Ketika kita telah berhasil menjadi orang yang sangat cerdas, namun kita jauh dari nilai-nilai keimanan, maka kita akan menjadi penyembah ilmu pengetahuan. Sehingga tak jarang kita jumpai banyak orang yang pandai namun ilmunya tidak bermanfaat, bahkan sebaliknya menjadi faktor pemicu timbulnya permasalahan. Oleh karena itu, kita juga hendaknya menjadi orang yang rajin berdzikir, mengingat Allah swt dimana pun dan kapan pun. “...ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar Ra’du:28).
created by: Ana Fauziyatun Nisa