Kunci Sukses: Pikir plus Dzikir
Sahabatku yang
dirahmati Allah swt, kesuksesan adalah impian semua orang. Tak ada satu pun
manusia yang hidup di muka bumi ini yang tidak ingin sukses. Mungkin kita
sering mendengar sepatah kata motivasi dari sahabat ketika kita akan ujian, “Sukses ujiannya ya,,”. Tidak hanya itu,
misalnya ketika kita akan berangkat ke kampus ini kemudian berpamitan kepada
ayah dan ibu kita, mungkin juga kita akan mendengar mereka berpesan, “Hati-hati
ya nak, semoga kamu jadi orang yang sukses.”
Dari kedua ilustrasi tersebut tampak bahwa sesungguhnya bukan hanya diri kita
yang menginginkan ‘sukses’, namun orang tua kita, sahabat kita, dan
kerabat-kerabat kita juga mengharapkan kita menjadi orang yang sukses. Mengapa?
Mayoritas orang berpendapat bahwa kesuksesan dapat menjemput kebahagiaan. Orang
yang sukses akan hidup bahagia. Lalu ada apa sebenarnya dengan ‘sukses’?
Definisi sukses
sesungguhnya masih sangat abstrak. Setiap orang memiliki tolak ukur yang
berbeda dalam mengukur kadar kesuksesannya. Ada yang beranggapan bahwa orang
yang memiliki harta banyak, kaya raya, maka ia adalah orang sukses. Artinya,
harta menjadi tolak ukur sukses atau tidaknya seseorang. Ada lagi yang
berpendapat bahwa orang yang jenjang
pendidikannya tinggi dan memiliki banyak ilmu. Artinya, tolak ukur kesuksesan
ada pada ilmu. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa orang yang sukses
adalah mereka yang memiliki jabatan tinggi dalam struktur sosial masyarakat,
baik dalam tatanan masyarakat tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi,
bahkan negara dan dunia sekalipun. Dalam hal ini jabatan atau kekuasaan menjadi
tolak ukur kesuksesan. Pendapat lain mengatakan bahwa yang penting tenang dan
tenteram, meskipun ekonominya pas-pasan mereka merasa hidupnya sudah sukses dan
bahagia. Artinya, ketenangan dan ketentraman menjadi tolak ukur kesuksesan.
Benarkah demikian?
Sampai saat ini,
kesuksesan masih dianggap sebagai sesuatu yang relatif karena belum ada tolak
ukur mutlak sebuah kesuksesan. Hanya saja, ketika kita menyaksikan ada pejabat
tinggi negara yang sangat cerdas, kaya, keluarganya damai, dan baik hati,
mungkin kita akan beranggapan ia adalah orang sukses. Namun, ada satu hal yang
seringkali terlupakan oleh kita, wahai sahabatku. Bahwa sesungguhnya kesuksesan
yang kita raih hendaknya dapat membawa kita pada dua kebahagiaan, yaitu bahagia
di dunia dan tentunya di akhirat yang abadi. Sehingga dalam perjalanan
menggapai kesuksesan, kita harus selalu berkaca pada dua kebahagiaan tersebut.
Porsi usaha yang kita lakukan perlu adanya keseimbangan agar hasil yang kita
peroleh adalah membawa manfaat, membuat kita bahagia di dunia juga di akhirat
kelak. Bukankah Allah swt telah berfirman dalam Q.S Al Qashash ayat 77, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan
apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan
bagianmu di dunia...”
Meskipun tolak ukur
kesuksesan bukan hal yang mutlak, ada dua hal yang perlu kita optimalkan untuk
meraihnya. Dua hal tersebut adalah pikir dan dzikir. Pikir merupakan potensi
yang harus kita optimalkan karena kita memiliki otak yang telah dianugerahkan
oleh Allah swt. Sukses membutuhkan kecerdasan, sehingga untuk meraihnya kita
perlu memperbaiki pola pikir kita. Dengan berpikir, mengotimalkan fungsi otak
yang kita miliki maka kita akan menjadi semakin cerdas. Semakin diasah maka
akan bertambah kecerdasan kita. Kemudian dzikir. Ketika kita telah berhasil
menjadi orang yang sangat cerdas, namun kita jauh dari nilai-nilai keimanan,
maka kita akan menjadi penyembah ilmu pengetahuan. Sehingga tak jarang kita
jumpai banyak orang yang pandai namun ilmunya tidak bermanfaat, bahkan
sebaliknya menjadi faktor pemicu timbulnya permasalahan. Oleh karena itu, kita
juga hendaknya menjadi orang yang rajin berdzikir, mengingat Allah swt dimana
pun dan kapan pun. “...ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar Ra’du:28).
created by: Ana Fauziyatun Nisa